Home‎ > ‎

JEJAK LANGKAH SANTRI


JEJAK LANGKAH SANTRI

Oleh Sahadatin Husna

Kesuksesan tak hanya untuk orang-orang berkecukupan, akan tetapi kesuksesan juga milik orang-orang yang benar-benar mau. Mau dalam hal ini tak hanya sekedar “bermimpi tapi ia “membangun mimpi”. Menjadi seorang santri adalah saksi bisu untuk membangun mimpi itu.

Saat Pertama kaki memijarkan langkah di lapangan gedung berlantai empat yang nan indah itu, semua terasa asing, kecuali keluarga yang menemani menghantarkan barang-barang yang dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari. Tatapan-tatapan penuh haru memperhatikan bangunan yang memancarkan suasana pengajian yang akan mengiasi hari dan waktu.

Memasuki gerbang di lantai satu terucapa kalimat dibibirku “Bismillah, sambil berdoa semoga aku betah dan nyaman disini, serta mendapat ilmu yang barokah”. Anak tangga demi anak tangga kulalui, hingga sampai diruangan yang tak pernah terbayang olehku sebelumnya. Sapaan itu mulai terucap, dan nama mereka mulai ku hafalkan.

Malam tiba, keluarga yang tadinya menemani sudah pulang, dikamar itu, sejenak hening hingga terdengar suara rintih butir air mata yang berjatuhan, sedih dan nangis  karena jauh dari orang tua dan keluarga, kini ku harus menyesuaikan diri dengan orang dan tempat yang baru. “aku mau pulang!!” teriakku dalam hati. Sarung bantal basah, dan saat kami saling menatap, dalam hati kecil aku merasa malu karena sebesar ini masih saja mewek saat jauh dari orang tua, padahal masih dalam satu daerah, bagaimana kalau diluar daerah?.

            Malam demi malam terlewati, pengajian telah dimulai, dan sekarang aku tahu rasanya jadi santri, hal yang ku inginkan dari dulu.

Satu dua minggu semangat nan membara, karena tugas dari kampus belum numpuk dan bisa dikatakan belum ada. Tapi setelah tiga bulan rasa malas itu menghampiri diri ini, entahlah kenapa. Tiba di malam ahad ibu menelponku “kring-kring” suara hp berdering. Dengan senang aku menjawab telpon dari bidadariku itu “assalamu’alaikum bu”. “wa’alaikumussalam” jawab ibuku. “ibu aku kangen, pengen pulang” rintihku di telpon itu. “kamu pasti pulang nak, ikuti saja aturan disana, pasti itu yang terbaik, jadilah anak yang selalu mentaati aturan yang ada, kalau kamu benar-benar sayang ibu, kamu harus melakukan amanah yang ibu kasih, lagian ini kan yang kamu inginkan dari dulu (kuliah dan mondok)” nasihat ibuku. Ku terdiam sejenak, air mataku mulai menetes mendengarkan nasihat darinya dan semangatku yang sudah low kini ter charger kembali. Ketika aku lemah nasihat itulah yang ku ingat.

Satu tahun Tahun sudah aku kuliah dan menjadi santri di mahad Al Jami’ah UIN MATARAM, Alhamdulillah aku bukan termasuk orang-orang pecundang itu, karena mampu bertahan sampai satu tahun lamanya. Waktuku di mahad sudah habis, disni aku bingung anatara melanjutkan di mahad atau keluar. Ibuku selalu bilang “jika itu baik bagimu, maka lanjutkan nak”. Nah, mendengar kalimat ibu, aku berfikir “sepertinya ini kode dari beliau menyuruhku untuk diam di mahad”, okelah tanpa fikir panjang dan juga karena kakak ku juga bilang “tinggal lagi dah, lagipula aku yang bayarin” ya aku akan diam lagi di mahad.

Tiga bulan libur, rasanya sangat menyenangkan, tapi membosankan juga, karena sedikit sekali kegiatan positif yang dilakukan dikampung halaman. Satu hari sebelum balik ke asrama mahad, kupersiapkan barang-barang sehari-hariku. Keesokan harinya, sampai didepan gedung yang akan ku tempati itu, ku berjalan sembari berdoa “ya Allah semoga di tahun ini aku lebih baik dari tahu sebelumnya”. Semua terasa biasa-biasa saja, hanya ada kebenyakan orang yang asing.

Kulihat mereka yang ditemani keluarganya untuk menempati mahad, rasa haru itu dating dan aku merenung sejenak “apalagi alasan yang membuat aku dan mereka tidak semangat?”.

Program-program ma’had semakin luar biasa, kini semakin terasa hawa menjadi seorang santri. Ditempa, dibina dan dibentur hingga terbentuk oleh para ustadz-ustadzah yang merelakan waktunya demi santri-santrinya.

Ku berharap Semoga perjuangan serta proses meraih kesuksesan untuk dunia dan akhirat ini disaksikan oleh Allah, hingga apa yang aku dan mereka harapkan dapat tercapai.